SELAMAT DATANG DI DESA GENDINGAN KECAMATAN WIDODAREN KABUPATEN NGAWI

Artikel

Sejarah Desa

26 Agustus 2016 15:38:09  Administrator  576 Kali Dibaca 

GENDINGAN, SEBUTIR PASIR DI PANTAI SEJARAH

Tanggal 13 Februari 1755 menjadi waktu paling bersejarah dalam perjalanan dinasti Mataram, karena pada hari dan tanggal tersebut sebuah perjanjian antara pihak VOC dan pihak Kerajaan Mataram di tanda tangani, di satu tempat yang bernama Giyanti (saat ini menjadi wilayah Dusun Kerten Desa Jantiharjo Kabupaten Karang Anyar – Jawa tengah). Perjanjian yang kemudian disebut dengan Perjanjian Giyanti adalah akibat dari pertikaian para hak waris Kerajaan Mataram yang dipicu ketidakpuasan dan akhirnya berujung pada pertempuran terbuka. Perpecahan dinasti Mataram ini melibatkan Pakubuwana III yang dibantu VOC dan di pihak lain Pangeran Mangkubumi yang semula dibantu oleh R.M Said/ Pangeran Sambernyawa . Konflik internal keluarga Mataram sebenarnya telah berlangsung beberapa dekade  sebelumnya, merupakan mata rantai panjang perlawanan keluarga Mataram terhadap kian menguatnya intervensi VOC dalam urusan pemerintahan.

Awal Mula Perpecahan Mataram

Pangeran Sambernyawa  (R.M Said) adalah putra dari Pangeran Arya Mangkunegara, merupakan putra sulung dari Amangkurat IV ( penguasa Mataram periode 1719-1726) bersaudara dengan Pangeran Prabasuya. Seharusnya Pangeran Mangkunegaralah yang paling berhak atas tahta Mataram selanjutnya, namun karena sikap kerasnya terhadap VOC/Belanda, ia diasingkan ke Srilanka hingga meninggal. Hal inilah yang menjadi dasar perlawanan Pangeran Sambernyawa/R.M Said terhadap Mataram dan VOC/Belanda.
Perlawanan Raden Mas Said/ Pangeran Sambernyawa dimulai ketika ia berusia 19 tahun dengan membantu orang-orang Cina memberontak terhadap keraton dan VOC. Peristiwa yang kemudian disebut dengan Geger Pecinan (30 Juni 1742) dipimpin oleh R.M Garendi ( cucu dari Amangkurat III penguasa Mataram periode 1702-1705).
Pakubuwana II terdesak dan terpaksa mengundurkan diri ke Ponorogo. (1743) dan mendapatkan perlindungan dari Kiai Kasan Besari di Tegalsari. Pakubuwana II yang berhasil kembali ke Kartosura enam bulan kemudian melihat kondisi keraton di Kartasura telah porak poranda, ia pun berkeputusan memindahkan keraton Mataram ke Desa Sala dan mengubah nama Kerajaan  Mataram menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat. (Daradjadi dalam : Perang Sepanjang 1740-1743 Thionghoa –Jawa Lawan VOC, 2008:274).

Oleh para pendukungnya R.M Garendi dinobatkan sebagai Amangkurat V yang istananya berkedudukan di Randu Lawang dan R.M Said/ Pangeran Sambernyawa sebagai panglima perang. Pada akhirnya setelah mendapat bantuan dari Pangeran Cakraningrat dari Madura, Pakuwana II dan VOC berhasil menangkap R.M Garendi dan kemudian mengasingkannya ke Ponorogo, sedangan R.M Said berhasil menyelamatkan diri dari penyerbuan dan mendapatkan perlindunan dari Pangeran Mangkubumi yang merupakan saudara kandung dari Paku Buwana II.
Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa mengobarkan perlawanan secara gerilya di sebelah barat Surakarta di sebuah daerah yang saat ini dikenal dengan nama Yogyakarta, dan untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan mereka, R.M Said dinikahkan dengan Raden Ayu Inten, putri Pangeran Mangkubumi.
Pada tanggal 20 Desember 1749 Paku Buwana II mangkat karena sakit keras. Sebelum meninggal ia dipaksa menyerahkan kekuasaan Surakarta kepada VOC/Belanda. Dengan memanfaatkan kabar sakitnya Paku Buwana II Pangeran Mangkubumi mendeklarasikan diri sebagai penguasa baru bekas Kerajaan Mataram di Yogyakarta dengan gelar Paku Buwana III. Pengeran Sambernyawa diangkat sebagai panglima perang sekaligus Mahapatih. Tentu saja pemerintahan baru Paku Buwana III di Yogyakarta ini tidak mendapat persetujuan dari VOC/Belanda,  mereka menunjuk putra  Paku Buwana II yang bernama R.M Suryadi sebagai penerus tahta dengan gelar Paku Buwana III. Dengan demikiandi pada waktu itu ada dua raja yang bergelar Paku Buwana III. Yakni R.M Suryadi yang dilantik oleh VOC/Belanda dan Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta.
Perang perebutan kekuasaan berlangsung beberapa tahun. Karena merasa kewalahan Paku Buwana III di Surakarta dan VOC mencari cara untuk memisahkan Pangeran Mangkubumi ( Paku Buwana III di Yogyakarta) dan Pangeran Sambernyawa. Siasat de vide et impera pun dipilih sebagai jalan paling mudah untuk memecah belah Pangeran Mangkubumi dan R.M Said. Melalui penyusupan dan penghasutan Tumenggung Sujanapura Pangeran Sambernyawa memisahkan diri dari Pangeran Mangkubumi yang notabene merupakan ayah mertuanya sendiri (1753).
Perpecahan kedua pangeran Mataram ini tak serta merta membuat pihak Kraton Surakarta dan VOC dapat bernapas lega, karena mereka justru menghadapi masalah yang lebih pelik disebabkan harus menghadapi dua musuh dalam satu waktu, yakni dari pihak Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa.
Alhasil pada tahun 1755 Kasunanan Surakarta dan VOC/Belanda berhasil membujuk Pangeran Mangkubumi untuk mengadakan perjanjian penghentian permusuhan melalui kesepakatan damai yang kemudian kita kenal dengan perjanjian Giyanti.

Kronik Dan Isi Perjanjian Giyanti

  1. Tanggal 22 September 1754 terjadi pertemuan pertemuan antara Hartingh Gubernur VOC Jawa Utara dengan Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi didampingi Pangeran Natakusuma dan Tumenggung Rangga, sedang Gubernur Hartingh didampingi oleh Breton, Kapten C.Donkel dan W.Focken. Pertemuan ini belum berhasil menghasilkan kesepakatan apapun, karena kedua belah pihak masih saling curiga dan bertahan dengan usulan masing-masing.
  1. Tanggal 23 September 1754 atau keesokan harinya dicapai kesepakatan awal antar kedua belah pihak yang isinya
  2. Pangeran Mangkubumi setuju melepas gelar sultan dan mendapat pembagian setengah wilayah kasultanan.
  3. Pangeran Mangkubumi berhak atas bagian ganti rugi atas penguasaan daerah pantai utara yang telah diserahkan kepada VOC
  4. Pangeran Mangkubumi berhak memeperoleh setengah pusaka istana peninggalan Kerajaaan Mataram.
  5. Tanggal 4 November 1754 Paku Buwana raja di Surakarta menyampaikan surat persetujuan atas nota kesepahaman yang dicapai pada pembicaraan tanggal 23 September 1754 kepada Mossel Gubernur Jenderal VOC.
  6. Tanggal 13 Februari 1755 bertempat di Desa Giyanti nota kesepahaman awal tersebut dikukuhkan sebagai perjanjian yang mengikat semua pihak dalam bentuk perjanjian. Dari pihak VOC ditandatangani oleh : N. Hartingh, W. Van Ossenberch, J.J. Steenmulder, C. Donkel dan W. Fockens.
  7. Tanggal 15 Februari Pakubuwana III bertemu Pangeran Mangkubumi di Lebak Jatisari untuk menyerahkan Keris Kanjeng Kyai Kopek.

Isi Perjanjian Giyanti :

 

Pasal 1 :      Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah di atas separo dari Kesultanan Mataram yang diberikan kepada beliau dengan hak turun-temurun pada pewarisnya, dalam hal ini Pangeran Adipati Anom Bendoro Raden Mas Sundoro.

Pasal 2 :      Akan senantiasa diusahakan adanya kerja sama antara rakyat yang berada di bawah kekuasaan VOC dengan rakyat kesultanan.

Pasal 3 :      Sebelum Pepatih Dalem (Rijks-Bestuurder) dan para bupati mulai melaksanakan tugasnya masing-masing, mereka harus melakukan sumpah setia pada VOC di tangan gubernur. Pepatih Dalem adalah pemegang kekuasaan eksekutif sehari-hari dengan persetujuan dari residen atau gubernur.

Pasal 4 : Sri Sultan tidak akan mengangkat atau memberhentikan Pepatih Dalem dan Bupati sebelum mendapatkan persetujuan dari VOC.

Pasal 5 :      Sri Sultan akan mengampuni Bupati yang memihak VOC dalam peperangan.

Pasal 6 :      Sri Sultan tidak akan menuntut haknya atas Pulau Madura dan daerah-daerah pesisiran yang telah diserahkan oleh Sri Sunan Pakubuwana II kepada VOC dalam kontraknya tertanggal 18 Mei 1746. Sebaliknya, VOC akan memberi ganti rugi kepada Sri Sultan sebesar 10.000 real tiap tahunnya.

Pasal 7:       Sri Sultan akan memberi bantuan kepada Sri Sunan Pakubuwana III sewaktu-waktu jika diperlukan.

Pasal 8 :      Sri Sultan berjanji akan menjual bahan-bahan makanan dengan harga tertentu kepada VOC.

Pasal 9 :      Sultan berjanji akan menaati segala macam perjanjian yang pernah diadakan antara penguasa Mataram terdahulu dengan VOC, khususnya perjanjian-perjanjian yang dilakukan pada tahun 1705173317431746, dan 1749.

Oleh VOC, Perjanjian Giyanti dilaksanakan dengan tujuan membangun aliansi kekuatan baru untuk menumpas pemberontak dan mengurangi kekuatan pemberontak dengan menggandeng salah satu kekuatan. Salah satu cara untuk menghalangi persatuan antar daerah yakni dengan membagi wilayah Kasultanan Jogyakarta dan Kasunanan Surakarta secara tersekat-sekat satu sama lain selain adanya wilayah yang diawasi secara bersama-sama oleh semua pihak.   ( Daftar Pustaka: M.C Riclefs.1991 Sejarah Indonesia Modern; Gadjah Mada University Press, Purwadi.2007 Sejarah Raja-Raja Jawa Indonesia; Media Ilmu)

PERANG JAWA

 Perang Jawa atau De Java Oorlog adalah salah satu perang besar yang dihadapi Belanda pada masa pendudukan/kolonialisme yang berlangsung selama lima tahun 1825-1830, melibatkan pasukan Belanda di bawah kepemimpinan Hendrik Merkus de Kock yang berusaha meredam perlawanan Pangeran Diponegoro.  Selama berlangsungnya perang tercatat 200.000 penduduk Jawa, 8000 tentara Belanda dan 7000 serdadu pribumi menjadi korban.

Sejarah Singkat Perang Diponegoro

Tanggal 5 Januari 1808 Marsekal Willem Daendels mendarat di Batavia. Meski pada awalnya hanya ditugaskan mempersiapkan Jawa sebagai basis pertahanan Prancis namun lambat laun kian mengubah etiket dan tata upacara tradisi yang menyebabkan kebencian pihak keraton. Selain itu dia juga memaksa keraton memberinya akses terhadap berbagai sumber daya alam dengan kekuatan militernya untuk membangun jalur Anyer-Penarukan. Tahun 1810 terjadilah pemberontakan Raden Ronggo yang dapat dipadamkan setahun kemudian. Dengan dalih mengalami kerugian atas pemberontakan tersebut, Daendels meminta kerugian kepada Sultan Hamangkuwana II yang semakin meningatkan kebencian pihak keraton. Tahun 1811, Inggris mendarat di Jawa dan mengalahkan pasukan koloni. Walau pada awalnya Inggris memberikan dukungan kepada Hamangkuwana II tapi pada akhirnya keraton diserbu oleh Pasukan Inggris di bawah Gubernur Jendral Thomas Stamford Bingley Raffles yang menyebabkan Sultan Hamangkuwana II turun tahta dan digantikan oleh putranya yakni Sultan Hamangkubawa III. Peristiwa ini dikenal dengan Geger Sepehi/Spey.

Inggris memerintah di Jawa sampai dengan tahun 1815 dan berdasarkan Perjanjian Wina (1814) harus mengembalikan Jawa kepada Belanda. Di tahun yang sama Hamangkubuwana III wafat dan digantikan putranya, Hamangkubuwana IV yang juga merupakan adik tiri dari Pangeran Dipanegara yang masih berusia 10 Tahun. Pada tanggal 6 Desember 1822 Sultan Hamangkubuwana yang berusia 19 tahun wafat. Belanda atas permohonan Ratu Ageng mengukuhkan Sultan Hamangkubuwana V yang berusia 2 tahun sebagai penguasa baru dan Pangeran Dipanegara sebagai wali raja.

Awal Konflik

  1. 1823, tahta keraton yang seharusnya diduduki oleh wali raja diambil alih oleh Residen Belanda Smissaert.
  2. Pada tanggal 6 Mei 1823, Gubernur Jendral Belanda Van Der Capellen mengeluarkan dekreet yang isinya semua tanah yang disewa oleh orang Eropa dan Thionghoa harus dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari 1824, namun pemilik lahan wajib memberi kompensasi kepada penyewa lahan.
  3. Oleh dekret tersebut keraton Yogyakarta terancam bangkrut sehingga menyebabkan Pangeran Dipanegara terpaksa meminjam uang sebagai kompensasi lahan yang dikembalikan.
  4. Pada 29 Oktober 1824 Pangeran Dipanegara di kediaman Tegalrejo membahas kemungkinan menolak dekret dan pajak panguwasa serta kemungkinan lain memberontak pada pertengahan Agustus.
  5. Pada bulan Mei 1825, Residen Smissaert memperbaiki jalan-jalan di sekitar Yogyakarta. Tapi jalan Yogyakarta-Magelang yang awalnya melaluiMuntilan tiba-tiba dibelokkan dan melewati pagar sebelah timur makam leluhur Pangeran Dipanegara. Patih Danureja tidak memberitahukan perubahan route pembangunan sehingga menimbulkan amarah dari Pangeran Dipanegara.
  6. Pangeran Dipanegara bersama para pengikutnya mencabut patok jalan yang dipasang dan menggantikannya dengan tombak sebagai pernyataan perang.
  7. Tanggal 20 Juli 1825 pasukan gabungan Keraton dan Belanda menyerbu Puri Tegalrejo. Meski kediaman Pangeran Dipanegara dapat dibumi hanguskan namun beliau dapat meloloskan diri dan memulai perlawanan dengan memusatkan perjuangan dari Goa Selarong.

Berjalannya Perang

Dengan mengusung semangat perang sabil, Pangeran Dipanegara tidak hanya menghimpun kekuatan dari kalangan keluarga keraton saja. Penindasan dan kesewenang-wenangan Belanda telah menumbuhkan semangat untuk berontak dan melawan penjajahan dan kezaliman. Tercatat berbagai macam golongan menggabungan diri dalam pasukan Pangeran Dipanegara. Bila sebelumnya kalangan bandit sangat ditakuti masyarakat, atas usaha Pangeran Dipanegara dapat direkrut sebagai pasukan, sedangkan sokongan pasukan dari kalangan santri dan ulama dimotori oleh Kyai Mojo, sementara dari golongan keluarga istana sebanyak15 dari 19 pangeran bergabung dengan perjuangan beliau. Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegara juga berkoordinasi dengan Pakubuwana IV dan Raden Tumenggung Prawiradigdoyo dari Gagatan, selain Sentot Ali Basyah Prawiradirjo putra Ronggo Prawiradirjo Bupati Madiun.

Bergabungnya hampir setiap element masyarakat serta penguasaan terhadap medan perang menjadikan pasukan Pangeran Dipanegara begitu menakutkan. Pertempuran sengit kerap terjadi dan banyak merugikan Belanda apalagi di waktu yang sama mereka juga menghadapi perlawanan Tuanku Imam Bonjol di Sumatera. Dalam kondisi yang terjepit menyebabkan kerugian besar-besaran bagi Belanda. Hal itu menyebabkan mereka berkali-kali menawarkan perundingan untuk mencapai gencatan senjata. Setelah berbagai strategi diterapkan, baik serangan fisik dan mental juga siasat adu domba, pada tahun 1827 Belanda mulai dapat menguasai jalannya peeperangan, Pergerakan gerilya pasukan Pangeran Dipanegara dapat mula dibatasi dengan strategi benteng sketsel sehingga mempersempit ruang gerak perlawanan.

Pada tahun 1829 Kyai Mojo dapat ditangkap, menyusul kemudian Sentot Ali Basya menyerah kepada Belanda. Dan pada akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830 De Cock berhasil membujuk Pangeran Dipanegara untuk berunding di Magelang. Dengan tanpa niatan buruk karena sebelumnya telah diawali dengan perjanjian gencatan senjata di bulan ramadhan, Pangeran Dipanegara menghadiri undangan perundingan yang ternyata dimaksudkan untuk menjebak dan menangkap beliau. Pangeran Dipanegara akhirnya bersedia menyerah dengan syarat para pengikut yang menyertainya harus dibebaskan. Pangeran Dipanegara kemudian diasingkan ke Manado sebelum dipindahkan ke Benteng Rotterdam Makasar pada tahun 1855. Pengasingan beliau memandai berakhirnya perang jawa yang berjalan kurang lebih lima tahun.

Pasca Perang Jawa

Setelah Belanda berhasil memadamkan perlawanan Pangeran Dipanegara maka mereka  menyatakan perang jawa sudah berakhir. Tapi pernyataan itu tidak serta merta mengakhiri perlawanan di daerah-daerah yang sebelumnya sebagai ajang pertempuran. Sisa pasukan Pangeran Dipanegara yang tercerai berai selepas diasingkannya pemimpin mereka, kembali ke tempat asalnya dan menghimpun kekuatan untuk meneruskan perlawanan bersenjata walau hanya berupa gangguan-gangguan kecil pada Belanda, yang meski tak sampai pada pertempuran besar-besaran namun cukup merepotkan. Untuk memadamkannya Belanda menggunakan point-point kesepakatan dalam Perjanjian Giyanti, sebagau usaha mereka menekan istana agar bersedia memberikan bantuan. Hal ini juga dimaksudkan mendukung siasat de vide et impera dan menjauhkan raja dan rakyatnya.

KADIPATEN GENDINGAN

Penelusuran
Di Desa Gendingan Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi, terdapat sebuah tempat yang oleh penduduk secara turun menurun di sebut Ndaleman. Area yang berada di tengah perkampungan penduduk itu diyakini sebagai bekas tempat pusat pemerintahan Kadipaten Gendingan. Di setiap tahun selepas panen di hari Jum`at Legi masyarakat menggunakan tempat tersebut sebagai tempat pelaksanaan bersih desa. Penelusuran sejarah dari berbagai sumber menghasilkan kajian sebagai berikut :
Kadipaten Gendingan ditengarai berdiri pada tahun 1833 dan berakhir pada tahun 1837. Keberadaan Kadipaten Gendingan dan usia kadipaten yang terlalu singkat tak lepas dari konflik pasca perang jawa dan isi Perjanjian Giyanti.
Implementasi isi perjanjian Giyanti dalam hal penataan wilayah antara Kasunanan Surakarta, Kasultanan Jogyakarta, dan wilayah yang diawasi bersama-sama,  memunculkan penataan wilayah yang saling sekat. Wilayah yang masuk dalam penguasaan Kasultanan Yogjakarta akan berbatasan langsung dengan wilayah Kadipaten lain yang masuk dalam terotorial di bawah kendali Kasunanan Surakarta. Hal ini sebagai siasat Belanda agar antar kadipaten tidak dapat saling menggalang persatuan dan akan dengan mudah memunculkan konflik antar kadipaten berdasar kepatuhan mereka pada penguasa di tingkat pusat.
Wilayah Kadipaten Gendingan berbatasan langsung dengan kadipaten Ngawi. Dalam catatan sejarah menurut piagam yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamangkubuwana V di Yogjakarta, tanggal 10 November 1828 menyatakan Ngawi sebagai daerah kekuasaannya.dengan Bupati Pertama R. Ngabehi Sumodigdo. Sementara melalui penelusuran dari berbagai literature Kadipaten Gendingan dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung Anom Arya Kertanegara. Bila menilik dari silsilah Adipati Kertanagara yang merupakan keturunan dari Pangeran Purbaya di Kartasura, maka beliau termasuk salah satu cicit dari Raja Pakubuwana I di Surakarta. Menyimak hal tersebut baik secara silsilah keturunan, kedekatan geografis maupun cerita tutur dimana pada masa dahulu Raja Surakarta sering mengadakan pesiar dan mengunjungi wilayah Kadipaten Gendingan maka dapat disimpulkan bahwa Kadipaten Gendingan adalah wilayah dari Kasunanan Surakarta, salah satu dari yang disebut dengan istilah wilayah manca negara wetan. Wilayah Kadipaten Gendingan pada masa lalu, meliputi tujuh kecamatan saat ini yang masuk dalam wilayah Kabupaten Ngawi bagian barat, yakni Kedunggalar, Jogorogo, Ngrambe, Sine, Widodaren, Mantingan dan Karanganyar.

Tutur Tinular

Syahdan hiduplah pada masa itu seorang shaleh bernama Ki Ageng Jogorogo. Beliau tinggal di tepian Bengawan Sala. Ki Ageng Jogorogo mengelola daerah tersebut dengan sangat tekun. Sehingga lahan sawah menjadi subur dan masyarakat hidup makmur. Raja Surakarta pun beberapa kali menyempatkan berkunjung dan merasa puas, dan sebagai penghargaan atas jerih payahnya, kepada Ki Ageng Jogorogo dititipkan seorang perempuan dalam kondisi mengandung untuk diperistri sembari berpesan apabila sang permpuan itu melahirkan agar anak tersebut dididik secara baik dan apabila telah cukup umur agar dihantarkan ke Kraton Surakarta. Ki Ageng Jogorogo melaksanakan amanat itu secara sungguh-sungguh. Singkat cerita setelah dirasa tiba pada waktunya, maka sang anak yang pernah dititipkan kepada Ki Ageng Jogorogo diantarkan kepada raja di Surakarta. Atas perkenan sang Raja di Surakarta, sang anak diwisuda sebagai adipati untuk sebuah wilayah di daerah yang disebut Gendingan dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Anom Adipati Kertanegara. Sedangkan sebagai Patih Kadipaten diambilkan dari Kadipaten Madiun seorang bangsawan bernama Rangga Lana ( Rangga Lelana : bangsawan yang mengembara).
Adipati Kertanegara memimpin Kadipaten Gendingan secara arif dan bijaksana. Dengan bimbingan Ki Ageng Jogorogo ayah angkatnya dan sang patih yang juga merupakan guru dan pengasuh dalam bidang tata praja. Kadipaten Gendingan pun menjelma menjadi wilayah yang adil dan makmur.

Awal Pergolakan
Jiwa muda Adipati Kertanegara yang terdidik sejak usia dini dengan ajaran agama membuat beliau tidak bisa membiarkan ketidakadilan berlangsung di sekitarnya. Hal ini menimbulkan kebencian dalam diri Adipati Kertangara terhadap Belanda yang sering melakukan pelanggaran wilayah dan tindakan kesewenang-wenangan dengan dalih mengejar sisa pasukan Pangeran Dipanegara dan bersembunyi di balik pasal-pasal dalam Perjanjian Giyanti.
Bukan hanya berhadapan dengan tentara Belanda saja tapi ketidakjelasan batas wilayah dan juga karena terpengaruh oleh konflik dalam keluarga Mataram di era sebelumnya, menjadikan Adipati Kertanegara kerap berhadapan dengan adipati-adipati lain yang wilayahnya berada dalam kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Dikisahkan dalam satu cerita Adipati Kertanegara terlibat pertikaian dengan Adipati Blora dalam sebuah persaingan kesaktian ( kias dari persaingan kekuasaan).

Perang Gendingan
Pertikaian kecil yang semula hanya melibatkan pasukan penjaga perbatasan saja meluas ke segala aspek dan menyeret banyak pihak. Keperbihakan Adipati Kertanegara pada keadilan dan kebenciannya terhadap Belanda menjadikannya bertekad untuk mengobarkan perlawanan meski secara sembunyi-sembunyi. Adipati Kertanegara menjalin komunikasi dengan pelarian pasukan Pangeran Dipanegara dan bahkan menyediakan satu tempat persembunyian untuk menyusun kekuatan dan menyiapkan persenjataan perang mereka, di sebuah hutan di wilayah Pandeyan yang saat ini masuk dalam wilayah Kecamatan Mantingan. (pandeyan dari kata pandhe yang berarti tempat menempa senjata).
Belanda yang mencium gelagat tersebut segera mengambil langkah antisipasi membendung perlawanan Adipati Kertanegara. Belanda yang pada waktu itu memantau wilayah manca negara wetan dari kedudukan residen mereka di Magetan kembali menggunakan pasal-pasal dalam Perjanjian Giyanti untuk menekan penguasa baik di tingkat pusat maupun kadipaten untuk bekerjasama dan membantu Belanda memadamkan perlawanan Adipati Kertanegara di Gendingan. Belanda tidak ingin bertindak gegabah karena di waktu yang sama di Desa Ngawi (Ngawi Purba) juga sedang memanas dengan adanya sisa Pasukan Dipanagara di bawah seorang bernama Wirantani Sisa pasukan pangeran Dipanegara ini terus mengganggu kepentingan Belanda di penyeberangan Bengawan Solo, bahkan tercatat beberapa kali Wirantani dan pasukannya menyerang beteng Belanda yang ada di tepian Bengawan Solo ( Beteng Van den Bosch- sekarang dikenal dengan Beteng Pendem Ngawi).
Dalam perhitungan mereka, apabila Adipati Kertanegara berhasil menyatukan pelarian pasukan Pangeran Dipanegara yang menyeberang melintasi Blora dan bersembunyi di hutan Pandeyan dan Pasukan Wirantani di Ngawi, maka akan kecil kemungkinannya perlawanan itu dapat dipadamkan dengan mudah. Dan tentunya Belanda tidak menginginkan kerugian besar akibat Perang Jawa akan terulang kembali.

Perang Pertama
Belanda dengan berbagai pertimbangan memutuskan menyerang Kadipaten Gendingan. Perang berkecamuk hebat di sisi anak sungai Bengawan Solo (sungai mbibis). Pasukan Kadipaten Gendingan dengan dibantu sisa pasukan Pangeran Dipanegara melalukan perlawanan dengan gigih. Adipati Kertanegara dan Patih Ranggalana yang juga panglima perang kadipaten memimpin pasukan dengan gagah berani, walau kalah dalam hal jumlah tentara dan persenjataan. Penguasaan pasukan Kadipaten terhadap medan perang dan penerapan strategi yang tepat dengan memanfaatkan kondisi geografis sepanjang aliran sungai membuat Pasukan Belanda kuwalahan dan memaksa mereka mengundurkan diri ke Ngawi, serta mengirim sinyal gencatan senjata.  Adipati Kertanegara tidak berusaha mengejar Belanda ke timur namun menarik pasukannya kembali ke Gendingan untuk membangun pertahanan. Selepas perang untuk beberapa saat suasana berlalu dalam keadaan damai. Tapi Belanda tidak mudah memendam hasrat penguasaan mereka. Nafsu serakah dan keinginan untuk membalas dendam atas kekalahan membuat Belanda tak henti-hentinya mencari jalan untuk mengetahui kelemahan Kadipaten Gendingan. Gencatan senjata nyatanya hanya sebagai salah satu trategi semata. Dengan memanfaatkan suasana damai dan kelengahan lawan, mereka mengadakan penyusupan telik sandi ke wilayah Kadipaten Gendingan ( operasi intelegent). Syahdan Belanda pun mendapat informasi tentang kelemahan Kadipaten Gendingan dari seorang pekatik  (pemelihara kuda istana) bernama Gurmito. Konon kehebatan Kadipaten Gendingan tak lepas dari kesaktian Patihnya yaitu Patih Ranggalana, dan kesaktian sang patih ini terletak pada ikat kepalanya ( udheng:jawa).
Maka dapat disimpulkan apabila dapat membunuh Patih Ranggalana, Kadipaten Gendingan akan kehilangan kekuatan dan untuk membunuh Patih Ranggalana adalah dengan melepaskan ikat kepalanya. Belanda pun menyusun strategi lanjutan untuk menyerang Kadipaten Gendingan. Langkah pertama untuk memudahkan strategi itu adalah dengan memisahkan Adipati Kertanegara dan Patih Ranggalana dalam serangan mendadak ke jantung Kadipaten Gendingan.

Rencana Yang Gagal
Tampaknya Belanda belajar dari pengalaman atas penangkapan Pangeran Dipanegara di Magelang beberapa tahun sebelumnya. Secara licik mereka hendak menangkap dan bahkan bila mungkin membunuh Adipati Kertanegara dalam sebuah perundingan. Pada suatu hari diundanglah Adipati Kertanegara ke Ngawi untuk mengadakan pembicaraan. Perlu diketahui bahwa Adipati Kertanegara memiliki klangenan (hobby) tayuban. Dengan mengetahui informasi ini maka Belanda selain mengirim undangan perundingan juga menyertakan keterangan akan menggelar acara tayuban yang dihadiri Bupati-Bupati dari Kadipaten lain agar sang adipati bersedia menghadiri undangan, dan tentu saja karena dimaksudkan akan mengadakan perundingan, Adipati Kertanegara tidak diperkenankan dikawal pasukan.
Tanpa berpikir buruk atas perangai Belanda, Adipati Kertanegara bermaksud menghadiri undangan itu. Patih Ranggalana sebenarnya sudah memperingatkan dengan berkaca pada kelicikan Belanda di beberapa peristiwa, tapi Adipati Kertanegara bersikeras karena selain acara itu dimaksudkan untuk membicarakan perdamaian juga dihadiri Bupati-Bupati lain, dan tentu dalam pikiran Adipati Kertanegara, Belanda tidak akan berlaku melampaui kewajaran. Di satu sisi Adipati Kertanegara tak ingin diejek penakut atau bahkan dianggap pecundang di mata Bupati dari Kadipaten lain apabila ia tidak menghadiri undangan itu.
Mengetahui kekerasan hati anak asuhannya itu, Patih Ranggalana tak bisa berbuat apa-apa, hanya menyarankan agar saat menghadiri undangan, Adipati Kertanegara mengendarai salah satu kuda perangnya yang bernama Pagerwaja. Konon kuda bernama Pagerwaja ini sangat hebat, selain seolah mengerti kehendak majikannya, juga memiliki kemampuan fisik yang luar biasa. Kuda Pagerwaja dikisahkan memliki loncatan sangat jauh hingga sepintas seperti terbang. Saran terakhir dari Patih Ranggalana ini diterima oleh Adipati Kertanegara, dan dengan mengendarai kuda kesayangannya beliau pun berangkat menuju Ngawi.
Sesampainya di tempat undangan suasana telah riuh rendah oleh pagelaran tayub. Adipati Kertanegara memasuki ruangan dengan sikap waspada, dan benar saja di tempat yang dijanjikan sebagai tempat perundingan ternyata merupakan jebakan untuk menangkapnya. Pasukan Belanda telah siaga senjata lengkap mengepung tempat itu dengan dibantu tentara dari beberapa kabupaten yang terpaksa mendukung Belanda. Pertarungan hidup mati pun terjadi karena Adipati Kertanegara tak sudi menyerah begitu saja. Tempat yang semula sebagai ajang pertunjukan tayub pun seketika porak poranda. Adipati Kertanaegara yang merasa dicurangi mengamuk bak banteng ketaton (banteng terluka). Di luar halaman saat mengetahui sang majikan dalam bahaya, kuda Pagerwaja yang diikat di pohon beringin memberontak, kekuatannya yang luar biasa mengakibatkan batang beringan tumbang dengan akar tercerabut. Kuda Pagerwaja meringkik keras, dan menerjang ke dalam ruang perhelatan untuk menyelamatkan Adipati Kertanegara.
Dari atas kuda perangnya, Sang Adipati Gendingan kian tak tertandingi. Tak terhitung lagi pasukan Kompeni/Belanda dan sekutunya bergelimpangan jadi korban. Ada yang tersambar senjata,  ada yang terjungkal tak berdaya oleh terjangan kaki kuda Pagerwaja. Tapi pasukan Belanda pun sudah siap dengan perhitungan. Bala bantuan terus merangsek ke dalam ruangan. Menyadari kalah jumlah yang dapat mengakibatkannya kehabisan tenaga, Adipati Kertanegara dengan satu isyarat memerintahkan kuda Pagerwaja untuk membawanya keluar dari tempat itu. Kuda Pagerwaja yang menangkap isyarat majikannya, mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, dengan diawali satu ringkikan tinggi yang serasa membelah langit malam, melesatlah sang kuda perkasa ini membawa Adipati Kertanegara kembali menuju kediamannya di Gendingan.

Perang Kedua
Di luar perkiraan siapa pun, undangan pembicaraan damai dan pagelaran tayub itu hanyalah siasat licik Belanda saja. Tak sampai sepenginang ( istilah hitungan jawa untuk waktu yang cepat sekali) selepas Adipati Kertanegara meninggalkan Kadipaten Gendingan, Pasukan Belanda dan sekutunya sudah mengepung ibukota kadipaten . Hampir semua penjuru dan sudut menuju pusat pemerintahan telah terisi penjagaan Belanda. Hal ini tidak memungkinkan sisa pasukan Pangeran Dipanegara yang setelah perang pertama usai mundur ke hutan Pandeyan untuk bergabung.  Inilah strategi yang dirancang secara masak saat Belanda dengan licik mengajukan gencatan senjata. Di masa damai orang akan cenderung lengah, dan itu terjadi pada sisa pasukan Pangeran Dipanegara yang kembali ke garis awal pertahanan mereka karena merasa keadaan sudah aman. Kondisi itu memudahkan Belanda dan sekutunya untuk mengadakan pergerakan spionase dan menggelar baris pendhem di sekitar kadipaten, dan puncaknya adalah ketika Adipati Kertanegara dan Patih Ranggalana dapat dipisahkan.
Suara meriam menggelegar menandai serangan Belanda ke pusat kadipaten. Patih Ranggalana yang tinggal dalam pusat pemerintahan tak mau hanya tinggal diam. Dengan pasukan yang tinggal di kotaraja, beliau mengadakan perlawanan secara gigih. Meski sudah berusia sepuh, tapi Patih Ranggalana adalah panglima yang kenyang dengan pengalaman perang. Tak peduli persenjataan musuh yang lebih canggih dan besarnya pasukan lawan, dia berperang bak tanpa beban. Hampir semalaman suntuk kedua pasukan ini berperang. Kota kadipaten telah porak poranda oleh bola-bola meriam. Tak terhitung lagi jumlah pasukan kadipaten tertembus peluru dan jadi korban. Tapi itu tak menyurutkan perlawanan Patih Ranggalana dengan sedikit pasukan yang tersisa.
Untuk menjalankan strategi berikutnya, pasukan Kompeni/Belanda bertahan di sisi timur sungai, sembari terus menghujani kota kadipaten dengan bola-bola meriam. Mereka berharap Patih Ranggalana terpancing menyeberangi sungai yang itu akan memudahkan mereka melepaskan ikat kepala kelemahan sang patih.
Patih Ranggalana tak hanya panglima perang, ia juga seorang pendekar yang ksatria. Dalam anggapannya cara perang Belanda adalah licik karena tidak berani adu arep (berhadapan muka) hanya menyerang dari kejauhan. Tak sabar menghadapi cara perang Belanda yang demikian, Patih Ranggalana memimpin pasukan yang tersisa menyeberangi sungai, dan saat itulah yang dinantikan oleh Kompeni/Belanda dan sekutunya. Ketika sang patih hendak menaiki tebing timur sungai sebuah tombak diarahkan ke arah ikat kepalanya, mengakibatkan udheng beliau terlepas, dan disaat yang sama pula hilanglah kesaktian Patih Ranggalana. Sekejap saja setelah udheng itu terlepas dari kepala Patih Ranggalana, bak rombongan lebah, peluru berhamburan dari senapan pasukan Belanda, juga anak panah dan tombak menghujani tubuh patih Kadipaten Gendingan yang gagah perkasa ini. Patih Ranggalana pun gugur di satu pagi, di tempat yang berada di tepi sungai anak Bengawan Sala yang selanjutnya dikenal dengan nama Kajangan. ( kajangan dari asal kata ajang dalam bahasa jawa berarti tempat perang)
Menyaksikan pemimpin mereka gugur, pasukan kadipaten seketika pupus harapan. Hanya tertinggal keinginan untuk menyelamatkan jazad sang patih agar terhindar dari penghinaan yang mungkin akan dilakukan oleh Belanda terhadap mereka yang dianggap musuh. Pasukan Kadipaten berupaya mendapatkan tubuh Patih Ranggalana yang penuh luka dan bersimbah darah, kemudian membawanya ke suatu tempat yang dirasa  aman agar dapat dimakamkan secara layak. Tempat itu saat ini berada di satu puncak bukit kecil di wilayah Kecamatan Ngrambe yang oleh masyarakat dikenal sebagai Bukit Jabal Kadas.

Perang Ketiga
Adipati Kertanegara yang baru saja hendak memasuki kota Kadipaten ketika bertemu rombongan prajurit kadipaten yang tercerai berai. Seketika amarah Adipati Kertanegara meledak, saat mendapat laporan mengenai serbuan Belanda dan sekutunya ke Kadipaten Gendingan. Amarah yang berbaur kesedihan mendalam saat mengetahui bahwa patih kadipaten yang juga gurunya telah gugur saat mempertahankan diri dari serangan Belanda. Untuk beberapa saat Adipati Kertanegara dan beberapa pengikutnya memilih menenangkan diri, menghindari kota kadipaten yang telah diduduki oleh Belanda sambil menghimpun kembali pasukannya. Ketika dirasa waktunya telah tiba, Adipati Kertanegara yang telah berhasil menggabungkan sisa pasukan Dipanegara dan sisa pasukan kadipaten mengadakan serbuan ke dalam kota Kadipaten Gendingan. Pasukan Belanda yang dimabuk kemenangan saat itu dalam keadaan lengah. Hal itu mempermudah Adipati Kertanegara dalam merebut kembali kotapraja, apalagi pasukan gabungan dari sekutu kadipaten terdekat yang membantu Belanda telah ditarik kembali ke kadipaten masing-masing.  Dalam waktu singkat Kadipaten Gendingan dapat direbut kembali. Menyaksikan keadaan kota raja kadipaten dalam keadaan porak poranda dan dibumihangusakan hati sang adipati sangat sedih. Ia pun putus asa dan memilih meninggalkan rumah kadipaten untuk mengasingkan diri, sedangkan kepada para pengikutnya dibebaskan untuk mengikutinya atau tidak. Mereka yang tidak mengikuti Adipati Kertanegara mengasingkan diri bukan berarti tidak setia melainkan ingin terus berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi Ngawi dengan menggabungkan diri dengan sisa pasukan Dipanegara yang berkedudukan di Desa Ngawi. Sejarah pun akhirnya mencatat terjadinya pemberontakan kepada Belanda (versi penyebutan Belanda) di Ngawi yang dipimpin oleh Wirotani (Wirontani: jawa) pada tahun 1839 ( De Java Oorlog-Pjf. Louw jilid I).

GENDINGAN MENATAP JAMAN

Wilayah bernama Gendingan kini tumbuh dan berkembang sebagai sebuah desa di Kabupaten Ngawi Jawa Timur yang secara administratif berada di Kecamatan Widodaren. Sebagai salah satu desa agraris, mata pencaharian penduduknya bertumpu pada sektor pertanian dan pengolahan hasil bumi. Di Desa Gendingan terdapat 11 Rukun Warga dan 37 Rukun Tetangga yang terbagi dalam lima dusun yakni :

  1. Dusun Gendingan Lor
  2. Dusun Gendingan Kidul
  3. Dusun Kedungprawan
  4. Dusun Nglongkeh
  5. Dusun Banjarjo

Pasca kemerdekaan, Desa Gendingan berusaha menyelaraskan keberadaannya dalam sistem tata negara Pemerintahan Republik Indonesia. Dalam upaya mengikuti perkembangan jaman Desa Gendingan mengalami beberapa kali era kepemimpinan Kepala Desa yaitu :

  1. Sibin
  2. Arjo Karnen
  3. FX. Diyono
  4. Drs. Marminto
  5. Soekardi.SHM
  6. Puguh Endro Sambodo,ST
  7. Giyanto

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Aparatur Desa

Back Next

 Statistik

 Arsip Artikel

08 Juli 2023 | 696 Kali
Babinsa Dan Perangkat Desa Gendingan Upayakan Pembebasan Biaya Pengobatan Warga Miskin
26 Agustus 2016 | 576 Kali
Sejarah Desa
30 April 2014 | 414 Kali
Profil Potensi Desa
06 Oktober 2023 | 400 Kali
Bahaya Bermain Layang-Layang Dekat Kabel Listrik, Pemdes Gendingan Giatkan Sosialisasi
29 Juli 2013 | 328 Kali
Profil Desa
24 Agustus 2016 | 281 Kali
Data Desa
07 November 2014 | 275 Kali
Pemerintahan Desa

 Peta Wilayah Desa

 Peta Lokasi Kantor


Kantor Desa
Alamat : Jl. Raya Ngawi-Solo KM 28 Desa Gendingan Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi
Desa : Gendingan
Kecamatan : Widodaren
Kabupaten : Ngawi
Kodepos : 63256
Telepon :
Email : desa.gendingan01@gmail.com